3 Kompetensi Numerasi dalam Rapor Pendidikan

Posted on

Artikel blog ini akan membahas peranan penting kompetensi numerasi dalam rapor pendidikan melalui beberapa studi kasus yang diberikan.

Kompetensi Numerasi dalam Rapor Pendidikan – Mengetahui

Kompetensi Numerasi dalam Rapor Pendidikan

Salah satu indeks kompetensi numerasi pada Rapor Pendidikan adalah mengetahui. Kompetensi ini menjadi penting karena erat kaitannya dengan kemampuan peserta didik dalam memahami fakta, proses, konsep, dan prosedur.

Selain itu, kecakapan numerasi ini perlu dimiliki peserta didik agar mereka dapat memahami materi atau menjelaskan suatu konsep pada mata pelajaran lain. Mari kita pahami akan kompetensi ini dengan contoh-contoh yang mudah untuk diterapkan berikut ini.

Kemampuan berhitung sangat penting bagi siswa untuk memahami berbagai mata pelajaran di luar matematika, seperti fisika, kimia, sejarah, dan biologi. Di Indonesia, tingkat kompetensi keterampilan berhitung di kalangan siswa sekolah dasar masih di bawah standar minimum, yaitu hanya 40,5 dari 100. Selain itu, sebagian besar siswa masih membutuhkan intervensi khusus untuk meningkatkan kemampuan berhitung mereka.

Memahami Keterampilan Berhitung

Kemampuan berhitung lebih dari sekedar perhitungan dasar dan tidak terbatas pada matematika saja. Keterampilan ini melibatkan kemampuan untuk memahami fakta, proses, konsep, dan prosedur. Keterampilan ini memungkinkan siswa untuk menafsirkan dan menerjemahkan situasi kehidupan nyata ke dalam simbol-simbol matematika.

Laporan tentang pendidikan sekolah dasar di Indonesia menyoroti “kompetensi mengetahui” sebagai salah satu indikator kemampuan berhitung.

Tantangan dalam Keterampilan Berhitung

Menurut laporan tersebut, 13,04% siswa di sekolah dasar di Indonesia memerlukan intervensi khusus untuk meningkatkan kemampuan berhitung mereka. Para siswa ini memiliki pengetahuan matematika yang terbatas, pemahaman konsep yang parsial, dan keterampilan komputasi yang terbatas. Mengatasi tantangan-tantangan ini sangat penting bagi para guru seperti Pak Ryan dan rekan-rekannya.

Strategi untuk Intervensi Khusus

Untuk meningkatkan kemampuan berhitung, guru dapat memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk memodelkan dan menerjemahkan fenomena atau masalah dalam kehidupan nyata ke dalam bahasa matematika.

Misalnya, di kelas pendidikan jasmani, siswa dapat menghitung asupan kalori dan pembakaran lemak. Di kelas sains, mereka dapat mengamati tingkat pertumbuhan tanaman dengan mengukur ukuran daun. Di kelas bahasa, siswa dapat membaca teks ekspositori dengan data, dan di kelas sosiologi, mereka dapat mempelajari stratifikasi sosial di sekolah mereka.

Contoh Praktis

Untuk siswa kelas tiga yang sedang mempelajari pecahan, guru dapat menggunakan cerita tentang pesta ulang tahun di restoran pizza. Cerita ini melibatkan Rina yang mengundang tiga orang teman, memesan pizza berukuran sedang, dan membaginya menjadi empat bagian yang sama besar.

Guru dapat melibatkan siswa dalam kegiatan praktik menggunakan bahan yang berbeda, mendiskusikan dan menulis pecahan bersama-sama, serta memahami maknanya.

Di sekolah menengah pertama, misalnya, di kelas sains kelas tujuh, siswa dapat mengukur dan membandingkan benda-benda di dalam dan di luar kelas. Mereka dapat membuat daftar sepuluh objek, mengamati dan mengukur panjangnya, dan menuliskannya dengan menggunakan satuan yang sesuai seperti sentimeter atau meter.

Rekomendasi untuk Perbaikan

Berdasarkan lembar perencanaan berbasis data untuk sekolah dasar di Indonesia, kemampuan berhitung diidentifikasi sebagai indikator level 1. Laporan tersebut juga menyoroti perlunya meningkatkan kompetensi dalam hal pengetahuan, yang saat ini berada di angka 40,5 dari 100.

Untuk mengatasi masalah ini, Ryan dan rekan-rekannya dapat memprioritaskan pemanfaatan platform Merdeka Mengajar untuk meningkatkan kapasitas guru dalam keterampilan numerasi. Dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam bidang numerasi, kompetensi numerasi secara keseluruhan dan kualitas pendidikan di sekolah dasar di Indonesia diharapkan dapat meningkat.

Baca juga :  Akhirnya Aku Tahu Numerasi Lintas Kurikulum Bisa Seperti Ini!

Kompetensi Numerasi dalam Rapor Pendidikan – Menerapkan

Kompetensi Numerasi dalam Rapor Pendidikan

Indeks kompetensi numerasi pada Rapor Pendidikan berikutnya adalah menerapkan.

Kompetensi ini penting karena berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan dan pemahaman tentang fakta-fakta, relasi, proses, konsep, prosedur, dan metode pada konten bilangan dengan konteks situasi nyata untuk menyelesaikan masalah atau menjawab pertanyaan.

Selain itu, kecakapan numerasi ini perlu dimiliki peserta didik agar mereka dapat memahami materi atau menjelaskan suatu konsep pada mata pelajaran lain.

Dalam sebuah kegiatan kelas baru-baru ini di SD Citra Indonesia, Pak Muji, seorang guru matematika, mengajak murid-muridnya untuk melakukan percobaan pengukuran. Membagi mereka ke dalam beberapa kelompok, beliau menugaskan mereka untuk mengukur panjang dan lebar mejanya dengan menggunakan bagian tubuh yang berbeda.

Kegiatan langsung ini tidak hanya mengajarkan para siswa tentang pengukuran, tapi juga menyoroti pentingnya keterampilan berhitung dalam berbagai mata pelajaran. Dalam artikel blog ini, kita akan mengeksplorasi pentingnya keterampilan berhitung dalam pendidikan dan bagaimana keterampilan tersebut dapat diterapkan di luar matematika.

Menerapkan Keterampilan Berhitung dalam Pengukuran

Para siswa secara bergiliran mengukur meja dengan menggunakan bagian tubuh mereka, seperti rentang tangan, lengan, dan kaki. Adi, salah satu siswa, mengamati meja sambil berpikir dalam-dalam dan tidak ikut serta dalam proses pengukuran.

Ketika ditanya tentang panjang meja tersebut, Adi dengan percaya diri mengatakan bahwa panjangnya adalah 120 cm. Terkejut, Pak Muji mempertanyakan metode perkiraan Adi.

Adi menjelaskan bahwa ia mengetahui panjangnya karena panjang meja tersebut sama dengan tiga lantai keramik kelas mereka, yang ia perkirakan masing-masing berukuran sekitar 40 cm.

Perkiraan Adi yang akurat menunjukkan bagaimana pengetahuan sehari-hari dapat diterapkan untuk memecahkan masalah dan membuat hubungan dalam mata pelajaran yang berbeda.

Kompetensi Menerapkan Keterampilan Berhitung

Kegiatan di kelas menunjukkan kompetensi menerapkan keterampilan berhitung dalam pendidikan. Menerapkan adalah sub-indikator di bawah kompetensi mengetahui, di mana siswa menerapkan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang fakta, hubungan, proses, konsep, prosedur, dan metode untuk memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan dalam situasi kehidupan nyata.

Kompetensi ini sangat erat kaitannya dengan kompetensi mengetahui, dimana siswa memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang fakta atau teori dan menggunakan matematika untuk menerjemahkan dan memodelkan objek, fenomena, masalah, atau isu ke dalam simbol-simbol matematika yang sesuai.

Menerapkan keterampilan berhitung di luar matematika

Keterampilan berhitung tidak terbatas pada matematika saja. Keterampilan ini dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan. Misalnya, dalam pendidikan jasmani, siswa dapat mempraktikkan kompetensi mengetahui dengan memahami durasi musik dan gerakan olahraga.

Mereka kemudian dapat menerapkan keterampilan berhitung dengan memperkirakan jumlah gerakan yang dibutuhkan dan membaginya di antara anggota kelompok. Demikian pula, kemampuan berhitung dapat diterapkan dalam pelajaran geografi ketika membaca peta atau menganalisis data tentang distribusi energi terbarukan di Indonesia.

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat menerapkan kemampuan berhitung saat memahami data yang disajikan dalam tabel di sebuah artikel.

Meningkatkan Kompetensi Menerapkan

Contoh keterampilan berhitung dalam berbagai mata pelajaran menyoroti pentingnya meningkatkan kompetensi penerapan dalam pendidikan.

Guru memainkan peran penting dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam situasi kehidupan nyata.

Dengan menggabungkan kegiatan langsung, tugas pemecahan masalah, dan proyek interdisipliner, guru dapat mendorong pengembangan keterampilan berhitung di berbagai mata pelajaran.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menerapkan keterampilan berhitung dalam kehidupan sehari-hari.

Kompetensi Numerasi dalam Rapor Pendidikan – Menalar

Kompetensi Numerasi dalam Rapor Pendidikan

Kemampuan menalar adalah salah satu kompetensi numerasi rapor pendidikan yang merupakan kelanjutan dari dua kemampuan sebelumnya yaitu mengetahui dan menerapkan.

Pada kompetensi menalar peserta didik tidak hanya dituntut untuk memahami dan menggunakan pemahaman tentang fakta-fakta, relasi, konsep dan metode pada suatu situasi kontekstual saja, tetapi juga dapat menganalisis, membuat kesimpulan, serta memperluas pemahaman dalam sebuah situasi baru yang lebih kompleks. Seperti apa ya kemampuan ini? Mari kita simak penjelasan berikut!

Baca juga :  5 Contoh Penerapan Numerasi di Kehidupan Sehari-hari

Dalam contoh sebelumnya, kita melihat bagaimana Pak Muji berhasil mengajari murid-muridnya cara mengukur panjang sebuah meja dengan menggunakan rentang lengan dan langkah kaki, dan mereka dapat menentukan bahwa meja tersebut memiliki panjang 120 cm.

Sekarang, Pak Muji ingin mengajarkan sebuah studi kasus tentang kompetensi penalaran. Jadi, apa sebenarnya penalaran itu? Menurut laporan pendidikan, penalaran adalah kemampuan siswa untuk menganalisis data dan informasi, menarik kesimpulan, dan memperluas pemahaman mereka dalam situasi baru, termasuk situasi yang tidak diketahui atau konteks yang lebih kompleks. Mari kita lihat bagaimana Pak Muji mengajarkan konsep ini.

Dalam contoh tersebut, Pak Muji memulai dengan menunjukkan kepada siswa beberapa benda dan bertanya kepada mereka bagaimana mereka dapat mengukur panjang benda-benda ini tanpa menggunakan penggaris. Dia menantang mereka untuk memikirkan solusinya.

Para siswa sebelumnya telah menebak panjang meja dengan menggunakan rentang lengan mereka, tetapi kali ini benda-benda tersebut lebih pendek, sehingga mereka tidak tahu panjangnya. Pak Muji mendorong mereka untuk memikirkan cara mengukur tanpa penggaris.

Seorang siswa menyarankan untuk menggunakan panjang meja sebagai acuan. Karena mereka tahu panjang meja adalah 120 cm, mereka dapat mengukur panjang benda dengan menghitung berapa kali benda tersebut muat dari satu ujung meja ke ujung lainnya. Mereka memutuskan untuk mengukur sebuah ponsel terlebih dahulu.

Mereka mengukur panjang ponsel dengan menggunakan meja sebagai acuan dan menemukan bahwa dibutuhkan 6 unit ponsel untuk menutupi panjang meja. Oleh karena itu, mereka menyimpulkan bahwa panjang handphone tersebut adalah 120 cm dibagi 6, yaitu 20 cm.

Selanjutnya, Pak Muji meminta siswa untuk mengukur panjang dan lebar sebuah penghapus. Mereka mengukur panjangnya dengan menghitung berapa langkah penghapus yang dibutuhkan untuk menutupi panjang meja, dan mereka menemukan bahwa dibutuhkan 40 langkah. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa panjang penghapus tersebut adalah 3 cm.

Demikian pula, mereka mengukur lebarnya dengan menghitung berapa langkah penghapus yang dibutuhkan untuk menutupi lebar meja, dan mereka menemukan bahwa dibutuhkan 120 langkah. Oleh karena itu, mereka menyimpulkan bahwa lebar penghapus adalah 1 cm.

Terakhir, Pak Muji meminta para siswa untuk mengukur panjang dan lebar buku tulis. Mereka mengukur panjangnya dengan menghitung berapa banyak buku tulis yang dibutuhkan untuk menutupi panjang meja, dan mereka menemukan bahwa dibutuhkan 5 buku tulis.

Namun, panjang buku catatan melebihi panjang meja, sehingga mereka perlu mencari pendekatan yang berbeda. Seorang siswa menyarankan untuk menggunakan lebar penghapus sebagai referensi karena mereka tahu bahwa penghapus tersebut memiliki lebar 1 cm. Mereka mengukur panjang buku catatan dengan menggunakan lebar penghapus dan menemukan bahwa dibutuhkan 25 unit penghapus untuk menutupi panjang buku catatan. Oleh karena itu, mereka menyimpulkan bahwa panjang buku catatan tersebut adalah 25 cm.

Dalam kasus ini, Pak Muji mendemonstrasikan kegiatan kelas yang mengajarkan siswa bagaimana menerapkan keterampilan penalaran dalam berhitung. Para siswa ditantang untuk menghubungkan informasi yang telah mereka ketahui, seperti panjang benda yang berbeda, dan menerapkannya untuk mengukur panjang benda lain.

Kegiatan ini mencakup kompetensi mengetahui, menerapkan, dan bernalar dalam berhitung. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana siswa dapat menggunakan pengetahuan yang telah mereka miliki untuk memecahkan masalah dan membuat hubungan antara konsep yang berbeda.

Ini hanyalah salah satu contoh kegiatan kelas yang berfokus pada kompetensi penalaran dalam berhitung. Masih banyak cara lain untuk mengimplementasikan kompetensi ini dalam pelajaran berhitung. Nantikan terus artikel-artikel menarik lainnya tentang berhitung.

Kesimpulan

Kemampuan numerasi sangat penting bagi siswa untuk dapat unggul dalam berbagai mata pelajaran dan memahami situasi kehidupan nyata. Sekolah dasar di Indonesia menghadapi tantangan dalam mencapai tingkat kompetensi yang diinginkan dalam keterampilan numerasi. Namun, dengan intervensi khusus dan strategi pengajaran yang inovatif, guru-guru seperti Pak Ryan dapat meningkatkan kemampuan berhitung siswa dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Demikian 3 kompetensi numerasi dalam rapor pendidikan yang musti menjadi perhatian bagi seluruh satuan pendidikan.